KARYA SISWA SELAMA BELAJAR DI RUMAH

My Sunshine

Berikut kami sajikan sebuah cerpen karya Gusti Ayu Kade Dewi Lestari yang berjudul My Sunshine

Selamat Membaca

 

05-Februari-2014
.
KIM NAMJOON
KIM SEOKJIN
MIN YOONGI
JUNG HOSEOK
PARK JIMIN
KIM TAEHYUNG
JEON JUNGKOOK
BTS!!!!!!

I LOVE YOU ARMYYYYY!!!!!!
.

.
18-Februari-2019
Dewi’s pov
.
Aku masih ingat sorakan itu, dimana sorakan itu tertuju pada ketujuh laki-laki yang dapat mengubah cara pandangku.
Namun, sorakan itu hanya terdapat saat 5 tahun lalu.
Iya, hanya saat itu, dan pada akhirnya mereka bubar menjalani kehidupan masing-masing. Namjoon, Hoseok, dan Yoongi yang sekarang menjadi produser lagu yang terkenal. Seokjin dan Taehyung, yang menjadi aktor. Dan, Jimin dan Jungkook menjadi penyanyi yang teramat diidamkan para kaum hawa.
Dan aku disini, masih memcintai mereka semua terutama Min Yoongi.

“Mahh!! Mamah!! Aku berangkat kerja dulu ya”
Aku Dewi, aku berumur 26 tahun. Aku bekerja di salah satu perusahaan pariwisata, aku disana menjadi seorang tour guide.

Aku menjalani kehidupanku dengan sangat tenang, karena aku memegang teguh prinsip papahku ‘jika kamu ada masalah, kamu harus tenang, jangan bertingkah gegabah, karena itu bisa membuat masalahmu semakin besar’

“Dewi, nanti kita ada rapat jam 11 siang, ingat datang yah” kata kak Novi, salah satu staff yang ada di perusahaanku.
“Siap laksanakan kan bos” kataku sambil tersenyum ke arah kak Novi.

11.05

Aku memasuki ruang rapat itu dengan was-was. Aku takut bos membicarakan tentang vas gucci yang beberapa hari lalu aku jatuhkan:”
1 jam kemudian
Betapa beruntungnya aku saat rapat bos tidak membicarakan soal itu?
Dari hasil rapat tadi, minggu depan aku dan para staff lainnya akan berlibur di Korea Selatan, dan itu sangat membuatku bahagia.

Satu minggu kemudian

“Mah, Pah Dewi berangkat dulu yah… Tenang aja ntar aku beliin oleh-oleh kok” kataku sambil tersenyum, kemudian mengecup pipi kedua orang tuaku.
“Iya sayang, hati-hati dijalan ya sayang” kata mamahku
Papah hanya memandangku sambil tersenyum.
Setelah berpamitan, aku langsung menuju ke bandara, karena para staff sudah menungguku disana.

Seven hours later

Akhirnya, kami sampai di kota Seoul dengan selamat. Kami check in hanya 3 kamar hotel karena staff yang ikut tidak terlalu banyak, yaitu hanya 12 orang. Aku sekamar dengan kak Novi, Natalie, dan Natasya.
Pukul 7 malam waktu setempat, aku berjalan-jalan di sekitaran sungai Han.

*miring bahasa korea*

By the way aku ini bisa bahasa korea, aku bisa karena aku menjadi tour guide orang korea.
“Wahhh, keren yah tempat” kataku sambil menatapa sekelilingku.
Aku duduk di salah 1 bangku.
Tap tap tap bruk
Tiba-tiba ada yang duduk di dekatku. Aku mengamati orang tersebut dengan tatapan mengintimidasi, dan aku sangat terkejut karena orang itu adalah Min Yoongi.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?” Tanyanya, dan itu sangat membuatku gugup.

“Aaa, bu-bukankah kau Min Yoongi?” Tanyaku takut-takut, karena tatapannya seakan ingin membunuhku.

Iya, lalu kenapa?” Tanyanya santai.

“Kenapa kau ada disini?” Tanyaku lagi, karena rasa gugupku sudah hilang.

Aku hanya ingin jalan-jalan” jawabnya. Lalu dia mengeluarkan handphonenya.
‘Woahhh hpnya sangat bagus’ batinku. Aku hanya duduk diam tanpa melakukan kegiatan apa-apa.

Kau tinggal dimana?” Tanyanya,yang sontak membuatku terkejut.

Aku tinggal di Indonesia” jawabku seadanya.

Boleh aku pinjam hpmu?” Tanyanya, aku terkejut lagi, tapi aku tetap memberikan hp ku padanya.

Aku lihat dia mendownloadkan aku aplikasi Kakao Talk.
Kenapa kau mendownload itu?” Tanyaku.

Kau diam saja”
Setelah dia mengatakan itu akhirnya aku diam saja. Aku lihat dia memasukan id nya.

“Jja, ini hp mu… Ingat saat kau kembali ke Indonesia, kau harus menghubungiku!!!!” Katanya lalu ia beranjak pergi.
Akhirnya aku juga kembali ke hotel, karena aku sudah mulai kedinginan.

Selama 1 minggu di Korea aku dan para staff pergi ke tempat-tempat yang sangat bagus di Korea, seperti Lotte World, Istana Gyongbokgung, Myongdong Street, dan beberapa tempat lainnya yang dapat memanjakan mataku.
Tidak lupa juga, aku mengambil gambar diriku di semua tempat itu.
Ting
Min Yoongi
Sedang bersenang-senang di Lotte World ya:)

‘Kenapa dia bisa tau aku disini’ batinku.
Aku tidak membalas chat itu karena para rombongan sudah mulai menuju ke tempat yang lain.

Saat ingin kembali ke Indonesia, tiba-tiba aku memikirkan Min Yoongin. Yah, selama 1 minggu itu Yoongi hanya menghubungiku sekali, itupun aku tidak membalasanya.
Aku menatap ke atas langut yang mendung.
‘Apakah kita bisa bertemu seperti itu lagi?’ Batinku.
Selama perjalan kembali ke Indonesia, aku hanya memikirkan dia.

7 hours later

Ting
Aku sangat heran, kenapa di jam segini ada yang menghubungiku.

Min Yoongi
A
ku tau kau telah tiba di Indonesia

What?!! Kenapa dia bisa tau?? Aku rasa sebelum berangkat aku hanya memberitahu orangtuaku. Aku kemudian menoleh ke kanan dan kiri, namun aku tidak melihat siapa-siapa.

Ting
Min Yoongi
Jangan heran, kau tidak perlu menoleh seperti itu, kau hanya cukup menoleh ke belakang saja.

Hah?! Kemudian aku menoleh ke belakang, dan daebak!! Kenapa dia bisa ada di Indonesia?!!!
Kenapa kau ada disini?? Bagaimana bisa?” Tanyaku yang sangat terkejut.
Jja, aku akan antar kau pulang, kau hanya perlu menunjukkan jalannya saja, dan juga akan ku ceritakan semuanya padamu saat perjalanan ke rumahmu” Aku hanya mengangguk saja.
Saat perjalanan pulang, dia langsung menceritakan semuanya.

Kau tahu, selama ini aku selalu mengikutimu bahkan aku selalu menstalker sosmedmu. Saat aku beranjak pergi dari sungai Han, itu tidak benar terjadi, aku mengikutimu sampai di hotel yang kau tempati” dia diam sejenak, lalu dia melanjutkan perkataannya.

“Saat aku tau kau akan kembali, aku berusaha mengambil cuti untuk tidak mengerjakan lagu yang akan kubuat ” Dia tiba-tiba menepikan mobilnya di emperan jalan dan kemudian dia tiba-tiba menatapku.

Dan kau tahu? Aku sebenarnya menyukaimu. Apakah kau ingat? 5 tahun lalu kita pernah bertemu di fansignku, dan kau memberikanku sebuah gelang cinta” dia menunjukkan gelang cinta itu.
Aku ingat semua kejadian itu, dimana Bangtan Sonyeondan(BTS) melakukan fansign sekaligus konser di Indonesia, dan aku mendatanginya. Aku ingat dimana aku hanya memberikan gelang cinta yang sama dengan ku pakai sekarang. Aku ingat semua itu. Aku terharu mendengar dia juga memperhatikanku.

“Kau, kau mengingatku?? Bagaimana bisa? Aku hanya pernah datang sekali ke fansign dan konsermu. Tapi kenapa kau mengenaliku?”
Tanyaku gugup.

“Aku mengingatmu karena aku sempat memfotomu saat fansign. Saat itu aku tertarik padamu. Kau datang dengan tampilan yang paling beda dari semua fansku. Kau tidak menggunakan make up yang berlebihan seperti fansku yang lain. Intinya aku mencintaimu saat pertama kali aku melihatmu dan aku mengetahui namamu karena saat itu kau bersama temanmu kan, aku menanyakan namamu padanya” katanya sambil menggenggam tanganku.

Aku seakan-akan kehabisan kata. Bagaimana bisa orang yang sangat aku idolakan jatuh cinta kepadaku yang notabenenya aku hanya seorang gadis biasa?

Ta-tapi, aku hanya seorang gadis biasa. Aku tidak secantik Jennie, Wendy, jihyo, atau artis perempuan lainnya. Aku hanyalah seorang tour guide yang biasa saja, tidak ada spesialnya” kataku sembari menunduk, namun aku tidak melepas genggamannya.

Kamu yang paling cantik dimataku, kau tampil apa adanya dan aku sangat menyukai itu” katanya menyakinkanku.
Aku hanya terdiam.

Jja! Aku akan melanjutkan perjalanannya, kau harus ingat menunjukkan jalan kepadaku” katanya mengingatkan ku.
Aku hanya mengangguk. Pikiranku saat ini hanya tertuju pada kata-katanya tadi.

1 jam kemudian

Ini rumahmu? Sangat indah” katanya sambil melihat sekeliling.
Ayo kita masuk” ajakku
“Mah, pah Dewi pulang!!!” teriakku
“Selamat dat-” ucapan ibuku terpotong karena pandangannya tertuju pada pria yang sedang aku ajak ini.
“Dia siapa?” Bisik mamahku
“Apakah mamah ingat siapa idolaku dulu? Jika mamah ingat itulah dia” kataku sambil tersenyum senang.

“Wahh bernarkah, papah cepet keluar”
“Apa sih ma-” sama seperti mamah, pandangan papah tertuju pada Min Yoongi.
“Wah, kamu beneran Min Yoongi?!” Aku terkejut, ternyata papah mengetahui kalo itu Min Yoongi.
Aku kemudian membisikkan sesuatu kepada Yoongi
Yoon, apakah kau tau, papahku mengenalimu”
“Jinjja?!! Kenapa dia Bisa  mengenaliku
” dia balik bertanya kepadaku. Aku hanya mengdikkan bahu tanda aku tidak mengetahuinya.
kami(aku dan Yoongi) dibawa menuju ruang keluarga.
Annyeong, aku Min Yoongi, senang bertemu dengan kalian”
Orang tuaku nampak bingung dengan apa yang dibicarakan oleh Yoongi. Kemudian aku menerjamahkan apa yang baru saja Yoongi katakan.
“Halo, aku Min Yoongi, senang bertemu dengan kalian”
“Halo Yoongi” sapa orangtuaku berbarengan.

Saat berbincang-bincang, aku hanya sebagai translatornya.
Karena sudah sangat larut, Yoongi menginap di rumahku. Yoongi tidur di sebuah kamar tamu yang terletak di samping kamarku.
Aku dan Yoongi masih di ruang keluarga sedangkan orangtuaku sudah menuju ke kamar mereka. Kami hanya diam tanpa adanya komunikasi.

“Ehem” Yoongi berdehem untuk mencairkan suasana.
Aku mau melanjutkan cerita di mobil tadi, jadi kesimpulannya, aku ingin kau menjadi pacarku.” Katanya sambil menatapku dengan sangat serius.
“Kau sadar dengan ucapanmu tadi?” Tanyaku untuk memastikan. Aku hanya tidak ingin terlalu berharap.
Apakah ada keraguan di wajahku.” Aku menatap lekat wajahnya. Dan aku tidak menemukan keraguan apapun.
Iya, aku mau menjadi pacarmu”

Blush..
Setelah mengucapkan itu pipiku menjadi merah.
Yak, kau tidak.perlu malu-malu seperti itu dihadapanku” katanya seraya terkekeh lucu.
“A-aku ga malu-malu kok!!” Belaku yang sontak membuatnya tertawa.
Saat dia tertawa diam-diam aku terus melirik ke arahnya.
‘Min Yoongi do you know, i love you very much. And You Are My Sunshine’

Setelah kejadian itu, semakin hari kami semakin dekat.
Orang tua kami sudah mengetahui hubungan kami. Dan semua fansnya juga sudah mengetahui. Aku sangat bangga padanya, karena dia berani menyatakan itu kepada awak media.
Hingga tiba saatnya, ia akan mengajakku berlibur di korea.

.

.

10 -April-2019
Chagiya, ayo kita jalan-jalan ke lotte world, apakah kau tidak bosan diam di apartement terus eoh?” Tanyanya kemudian ia menidurkan kepalanya di pahaku.

“Apakah kamu tidak lelah? Kamu baru pulang 5 jam yang lalu Yoongi-ya” tanyaku sambil mengelus rambutnya yang sangat halus.

Tidak apa, aku sudah terbiasa seperti ini saat masih menjadi member Bts”
5 tahun lalu, saat BTS bubar, aku terkena dampaknya. Aku menangis seharian, karena saat itu aku berpikir aku tidak akan bisa melihat mereka di layar hp ku.

*aku hanya seorang fangirl modal kuota, dan aku hanya sekali datang ke konser mereka:)

“Euhm, baiklah.. ayo kita berngkat ke Lotte World!!!” Aku teriak dengan semangat.
.
.
Aku baru 2 kali ke tempat ini” kataku dengan tatapan penuh binar karena melihat wahan-wahan yang ada.

“Hahahaha, apa kau tau, saat aku masih menjadi member, aku sangat sering kesimi bersama Namjoon. Hanya untuk merefresh otak kita yang sangat sangat sangat penuh memikirkan lirik lagu
” katanya diiringi kekehan lucu. Jika kalian bisa membayangkannya, Yoongi terkekeh dengan ekspresi seperti anak kucing yang lucu.

“Yak hyungg!! Sudah lama kita ga berjumpa”
Pandanganku beralih saat melihat seorang pemuda yanv memakai masker dan berjalan ke arah Yoongi.

Hahaha, iya sudah lama, kita hanya saling menukar kabar lewat kakao talk” Yoongi mendekati pemuda itu dan pangsung memeluknya.

Aku hanya diam memperhatikan interaksi 2 orang itu. Dan aku sangaaattttt terkejut saat aku tau itu adalah si Golden Maknae, Jeon Jungkook

“Jung-Jungkook” gumamku.

Annyeong noona, senang bertemu denganmu” sapa Jungkook sambil melepas maskernya dan tersenyum menampilkan gigi kelincinya.

“Huwaa neomu kyopta” batinku menjerit sangat keras.

Annyeong jungkook” aku menyapa balik.

Wah noona sangat cantik, lebih cantik dari yang aku lihat di sosmed”
“Aku tidak cantik jungkook hahaha”
“Tapi itu benar noona. Haishhh pantasnya aku yang menjadi pacar noona, agar kita serasi cantik dan tampan”
setelah mengatakan itu Jungkook dihadiahi Death Glare oleh Yoongi

A-anu hyung, mian hehe aku hanya bercanda” Yoongi hanya diam tanpa menyahuti.

Suasana hening menyelimuti kami, aku sangat tidak suka suasana ini. Jadi aku berinisiatof untuk menyairkan suasana.

Hey hey, kenapa kalain diam begini? Bagaimana kalau kita menikmati semua wahanaa yang ada disini?” Ajakku sambil mengandeng kedua tangan pria itu.

Dan yosh seperti dugaanku, kami menikmati semua wahana dengan sangat menyenangkan.
Saat menaiki wahana roller coaster aku tidak bisa menahan tawaku, karena Jungkook hampir saja muntah.

3 hours later

Setelah asik bermain, kami langsung pulang ke tempat masing-masing.
Aku dan Yoongi pergi ke apartement, sedangkan jungkook pergi ke rumahnya yang ada di dekat Lotte World

At apartement

Wahhh aku sangat lelah Yoongi-ya” rengekku sambil bergelayut manja di lengannya.

Wahh ternyata kau bisa lelah juga yaa” goda Yoongi.

Tapi aku memang lelah Yoongi-ya!!!” Rajukku sambil mempoutkan bibirku.

Kkkkkk neomu kyopta!!” Pekiknya sambil menarik pipiku.

Jja kau istirahatlah” katanya lembut sambil mengelus pucuk kepalaku.
.
.
Selama 1 tahun berpacaran, tidak ada hal aneh yang kami alami, justru, aku merasa makin hari semakin bahagia.
Iya, aku sangat bahagia memilikinya.
Hingga pada suatu hari ia melakukan sesuatu yang sangat tidak terduga.

.

.

09 maret 2020
Saat ini aku sedang menikmati suasana sore hari dari balkon kamarku.
Iya, aku sudah kembali ke Indonesia beberapa bulan yang lalu.
Aku sangat merindukan Yoongi disini. Tanpa aku sadari, aku menangis karena aku sangat merindukannya.

“Hiks hiks, aku ingin bertemu denganmu” kataku sambil menatap fotonya yang terdapat di kamarku.

“Dewii!!! Cepat turunnn… ada sesuatu di bawah” teriak mamah dari dapur.

Aku cepat-cepat menghapus air mataku, lalu aku bergegas menuju ke arah dapur.

“Ada apa sih-” aku menghentikan ucapanku karena YOONGI DATANG KE RUMAHKU

“YOONGI-YA AKU SANGAT MERINDUKANMU HIKS… HIKS.. KENAPA KAU SANGAT JARANG MENGHUBUNGIKU
” tangisku pecaha di pelukannya.

“Yakk kau jangan menangis, kan aku sudah ada disini ” dia menenagkanku.

Dan,, tunggu, aku rasa ada yang beda.

“YAKKK YOONGI, KAU BISA BAHASA INDONESIA??!!! TAPI SEJAK KAPAN KAU BELAJAR???!” tanyaku berteriak.

“Yakk tenang dulu, aku belajar bahasa indonesia diam-diam” katanya sambil tersenyum… tersenyum sangat manis sekali.

“Euhmmm aku sangat rindu padamu” aku mempererat pelukanku.

Tiba-tiba dia berjongkok si hadapanku.

“Dewi, aku sangat ingin memberitaumu ini dari dulu. Ehemm dewi, will you merry me?” Ungkapnya sambil memberikan aku sebuah cicin yang sangat cantik.

Akupun menatap mamahku yang berdiri di sampingku, kemudian ia mengangguk sambil tersenyum.

“Iya Yoongi aku mauuu” setelah aku mengatakan itu ia langsung memelukku sangat eratt.

“Baik karena kalian akan menikah, mari kita merayakannya dengan meriah” tiba-tiba papah mengatakan itu, entah papah muncul darimana, namun aku tidak memperdulikan itu. Yang pasti hari ini adalah hari yang paling bahagia untukku.
.
.
.
5 tahun kemudian
Author pov
“Yak appa, cenapa celalu melebut mainanku?!!” Terdengar teriakan seorang anak laki-laki yang baru berumur 4 tahun.

“Memangnya kenapa? Bukannya appa yang membelikan semua mainan ini” kata sang ayah yang menjahili anaknya.

“Eomma cenapa appa celalu ngambil mainanku?!!.. huwahhhh eomma” teriakan anak itu berubah menjadi tangisan yang sangat keras.

“Yak Min Yoongi pabbo, kenapa kau selalu menjahili anakmu, kau ini nakal sekali” maki seorang wanita yang datang dari dapur menuju ke tempat anaknya bermain.

“Cup cup Yoonjin ga boleh nangis lagi, laki-laki itu harus kuat, mengerti”

Iya, wanita itu adalah Dewi.

“Dan kau Min Yoongi, sekali lagi kau menjahili anakku akan kupatahkan tulang lehermu” kata Dewi sambil memberikan death glare kepada Yoongi. Yang ditatap hanya cengengsan tidak jelas.

“Chagiya, jangan marah, aku hanya bercanda” kata Yoongi memelas seperti anak kucing yang 1500 tahun tidak diberi makan:v

“Hihh hentikan tatapanmu itu, aku ingin muntah melihatnya” kata Dewi.

Yoonjin hanya tertawa mendengarkan kata ibunya.

“Hahahaha appa sih, sangat nakal makanya dimarahin eomma” ejek Yoonjin aambil menjulurkan lidahnya.

“Awas kau Yoonjin!!” Teriak Yoongi sambil menyerang anaknya dengan gelitikan andalannya.

“Hahahaha appa geli appa… eomma bantu Yoonjin hahahaha”
Dewi hanya menggelengkan kepalanya ketika melihat kelakukan mereka sambil tersenyum.

‘Terima kasih tuhan, kau telah memberikanku keluarga kecil yang sangat rukun, tanpa adanya permusuhan, dan untuk Yoongi terima kasih telah menjadikanku istrimu’ batin Dewi sembari tersenyum hangat

The end

 

#literasi

#karya siswa

#cerpen

Penantian Jarak dan Waktu

Penantian Jarak dan Waktu

Jayanti Mustika Dewi

 

Jangan pernah jadikan Jarak dan waktu sebagai alasan untuk berpisah.Karna setiap hal akan tetap menyatu apabila orang itu menjaga dan berusaha untuk mempertahankan huungan yang mereka rajut bersama.

           Pagi itu dering telepon membangunkanku dari tidur nyenyakku, ya itu pesan dari kekasihku yang sedang berada di Amerika untuk meraih gelar sarjananya disana. Namanya Althur Sean Anderson orang yang selalu kutunggu kehadirannya dihari-hariku.Dia adalah putra tunggal dari keluarga Anderson oleh sebab itu dia melanjutkan kuliahnya di Luar Negeri agar bisa melanjutkan dan mengambil alih  Perusahaan Ayahnya. Ini adalah pertama kalinya kami LDR karena selama 2 tahun kami pacaran kami selalu bersama kemanapun itu,tapi apalah dayaku aku tidak ingin menghambat dia untuk mencapai cita-citanya. Oh namaku Queenella Winifred Madison putri pertama dari keluarga Madison.

Selama 1 tahun belakangan ini kami hanya saling bertukar kabar melalui chat dan sesekali dia menelponku untuk sekedar menghilangkan rindu. Aku juga sudah berjanji untuk menunggunya kembali walau aku tidak tahu kedepannya akan seperti apa jadinya. Aku melanjutkan kuliahku di Universitas ternama di Jerman. Kami memang jarang bertukar kabar karena kesibukan masing-masing,aku tidak ingin mengganggu waktu belajarnya yang bisa menghambat kelulusannya.

 

HAMBURG UNIVERSITY.

Seperti hari-hari biasanya aku mengikuti mata kuliah yang membosankan ini, huh ingin rasanya aku membolos saja.

“Morning Queen!!” teriak Laura saat aku baru masuk ke ruangan.

“Morning too,” balasku singkat.

“Ish Queen lo kok jutek mulu sih, sesekali senyum jangan datar mulu tu muka. Heran kok gw bisa sahabatan sama kulkas berjalan sih?” sudah kuduga dia pasti ngomel seperti hari-hari biasanya.

“Huft! Lau, lo udah temenan berapa jam sih sama  gw? Sini gw lempar lo jangan paksa gw berubah cuma bikin lo bahagis sesaat,” ucapku sambil memandangnya malas.

“Au ah lo mah selalu gitu apa tadi, lo nanya berapa jam? Queen gw udah sahabatan sama lo dari zaman mesir kuno asal lo lupa! Au ah ngomong sama bongkahan es emang gak guna!” ucap Laura sambil pergi ketempat duduknya.

“Gitu kek dari tadi kan gw gak pusing jadinya dengerin celotehan lo pagi-pagi,” gumamku.

“Gw masih bisa denger ya Queen!” teriak Laura.

“Hmm,”

*****

 

Setelah berkutat cukup lama dengan pelajaran yang bikin otak puyeng akhirnya matkul gw habis juga. Sekarang gw sama Laura lagi di Caffe deket kampus buat ngisi perut.

“Queen lo mau pessen apa?” Tanya Laura.

“Samain aja kayak punya lo,” sahut gw

“Oke,”

Selama gw nunggu pesanan datang, Laura banyak banget cerita masalah inilah itulah. Heran kenapa gw bisa temenan sama ni manusia padahal tingkat kewarasannya udah hilang.

“Ish Queen lo pasti gak nyimak apa yang gw certain kan dari tadi? Emang ya lo temen paling laknat yang gw punya!” cerocos Laura.

“Wkwkwk, habisnya lo cerita udah kayak orang gila, gak ada jeda nyerocos mulu,” ucapku sambil tertawa.

“Untung lo temen Queen, kalo enggak udah lama gw bunuh lo,” ucap Laura sambil memutar matanya malas.

“Hehe, Sorry deh Lau gak akan  lagi,” ucapku.

“Lagian gimana sih Althur bisa nyaman sama lo heran gw, eh ngomong-ngomong gw gak pernah denger lo bahas soal dia deh,” tanya Laura diakhir kalimatnya.

“Gimana yah,Lau. Lo kan tahu kita sekarang LDR dia di Amerika sedangkan gw disini,bukannya gimana gw cuma gak mau ngeganggu waktu belajar dia,” ucapku.

“Sorry ya,Queen gw bikin lo sedih,” kata Laura dengan wajah memelas.

“Hahaha,santai aja kali lo berlebihan deh,” sahutku sembari tertawa.

”Udah ah pesenannya udah datang,ayo makan gw udah laper banget nih,” ucap Laura sembari menyuapkan makanan kemulutnya.

Tiba-tiba suara dering telephone mengalihkan atensiku, betapa bahagianya ternyata itu  adalah Althur, orang yang selalu kurindukan.

“Althur I miss you so much!!” teriakku langsung.

“Slow sayang. I Miss you too, jangan teriak-teriak okay,” sahut Althur sambil terkekeh kecil diseberang sana.

“Abisnya kamu jarang ngasih aku kabar,aku kangen tahu,” ucapku dengan nada manja.

“You know-lah sayang, aku sibuk dengan tugas kuliahku,” ujar Althur

“Hmm, okay aku ngerti maaf udah bersikap gak dewasa,” ucapku dengan nada bersalah.

“Udah lupain, btw kamu lagi dimana sekarang?” Tanya Althur.

“Lagi makan sama Laura, kamu udah makan? Jangan sampai lupa makan jaga kesehatan ya disana,” ucapku.

“Udah kok, iya kamu juga. Dosenku udah dateng nanti aku telephone lagi. Good bye sayang,” ucap Althur.

“Bye, sayang,” sahutku sembari memutus sambungan telephone.

Huft! Aku hanya bisa menghela nafas, selalu saja begitu. Ingin rasanya aku menyusul dia ke Amerika, ‘sudahlah Queen lo gak boleh egois!’ batinku.

“Cieee, yang Pangerannya habis nelpon mah beda ya. Bahagia dah lo itu,” goda Laura sambil menaik turunkan alisnya, ‘Gila!’ batinku.

“Biasa aja kali, heboh mulu deh lo. Cari pacar sana biar gak ngerekcokin gw mulu,” ucapku memandang dia malas.

“Apa, Lo ngehina Laura Jennifer William? Sekali gw senyumin, cowok-cowok akan bertekuk lutut dihadapan gw secara gw ini imut dan cantik lagi,” ucap Laura dengan percaya dirinya.

“Iyain, umur gak ada yang tahu,” sahutku sembari bangkit dari tempat duduk.

“Wah-wah lo emang laknat Queen! Lo nyumpahin gw matikan? Woeee tunggu!” teriak Laura dengan tidak tahu malunya, sembari berlari menyusulku.

“Diem! Lo kebanyakan ngomong Lau, gih pulang gw juga mau balik udah mau sore,” kataku sambil berjalan menuju mobilku.

“Huft, untung temen lo Queen,” ucap Laura memandang Queen yang mulai menghilang dari pandangannya, “Udah ah ngapain gw mikirin Queen yang gak pernah waras, mending pulang,” lanjut Laura melanjukan mobilnya kearah jalan pulang.

 

*****

 

Queen’s Home.

Setelah menempuh waktu 15 menit akhirnya aku sampai di Apartement yang sengaja Ayah belikan padaku dulu. Aku melangkah masuk kedalam, Huft! Selalu suasana seperti ini yang aku dapat. Sepi tanpa keluarga, ‘Sabar Queen cuma 1 tahun lagi’ batinku.

Sampai dikamar, aku langsung merebahkan diriku di Ranjang. Sambil memainkan Handphoneku, “Kenapa tumben gak ada notifikasi dari Althur ya, oh maybe dia sibuk. Jangan egois Queen,” gumamku. Setelah cukup lama aku pun beranjak ke toilet untuk membersihkan diri.

 

45 MENIT KEMUDIAN.

“Apa aku telphone Althur aja, ya?” ucapku sambil mescrool kontak di telphoneku.

“Udah ah telphone aja,” lanjutku langsung menelphone Althur.

Yes diangkat’ batinku.

“Hallo,” what,Suara cewek?

Hallo Mrs, can i talk with Althur?” tanyaku

Sorry Mrs, My boyfried was sleeping,” Pacar? Tidur? Tak terasa air mataku jatuh begitu saja.

Hum, o-okey Mrs. Thank you,” ucapku sambil terisak.

“Are you okay, Mirs?” tanyanya padaku.

I’m okay,” ucapku langsung memutus sambungan telephone.

“Arghhhhh…! Althur tega ya kamu hiks gini balasan kamu? Aku jaga cinta aku buat kamu disini tapi hiks ini yang aku dapet? Hiks ternyata sia-sia aja aku nunggu kamu disini,” teriakku sembari terisak

Segini sakitnya kah?? Menjaga tapi sia-sia. Althur lo jahat, ternyata lo selingkuh di belakang gw. Dan bodohnya bertahun- tahun gw jaga cinta gw cuma buat lo yang gak bisa ngehargai cinta gw! ‘Hati gw hancur Al, oke jika ini mau lo bakal gw ikutin permainan murahan ini’ batinku.

 

Drttt… Drttt… Drttt.

Tiba-tiba dering telphone mengalihkan atensiku. Dan sakitnya itu adalah telphone Althur.

“Hallo, sayang aku bisa jelasin,” ucap Althur saat aku mengangkat telphone.

“Hahaha, Kamu mau jelasin yang mana?  Soal perselingkuhan kamu apa kamu mau jelasin kalo yang aku denger itu gak bener? Hiks sumpah gw salut Al, silahkan jelasin janji gw dengerin kok,” ucapku sambil menahan isak tangisku.

“Ya, aku emang selingkuh. Tapi kamu juga samakan? Ayolah Queen jangan munafik! Kamu gak mungkin sesetia itu,” ucap Althur yang tidak dapat aku percaya.

“What? Kamu nuduh aku, Ingat ya Althur aku sama sekali gak pernah berniat selingkuh atau apalah itu yang kamu tuduhin ke aku! Yang selingkuh kamu kenapa seakan aku disini yang bersalah?” kataku sambil menahan emosiku.

“Queen-Queen kamu gak usah sok alim! Gak mungkin ada yang kuat LDR apalagi kayak kita udah mau 2 tahun LDR. Gak mungkin aku bisa sesabar itu,” ucap Althur.

“Terserah Althur intinya aku gak ada selingkuh atau apapun yang kamu tuduhin ke aku! Aku kita aniversary kita lusa kita tetep bisa sama-sama tapi ini yang aku dapet. Okelah kalo ini mau kamu, aku mau kita Putus!” sahutku.

“Oke, emang itu tujuanku nelphone kamu. So kita udahan,” kata Althur langsung memutuskan sambungan telephone itu.

“Arghhhh … Jahat kamu Al jahat hiks segampang itu kamu ngelepas aku? Kamu jahat hiks jahat!” teriakku terakhir kalinya saat pandanganku mulai memburam dan mulai tak sadarkan diri.

 

******

 

Gretasha Hospital.

“Queen lo baik-baik aja kan? Lo bisa denger suara gw kan?” suara yang aku dengar saat baru membuka mataku dan aku yakin itu Laura.

“Sssshh, gw kenapa Lau. Kenapa gw bisa ada di Rumah sakit?” tanyaku pada Laura.

“Mana gw tahu, tadi pagi gw ke Apart lo buat ngambil Flashdisk gw yang ketinggalan waktu ini. Tapi pas sampe sana sepi jadi gw main nyelonong aja. Dan apa yang gw dapet? Gw liat lo gak sadarkan diri dengan kondisi kamar udah kayak kapal pecah!  Gimana gw gak khawatir Queen.” Cerocos Laura, kebiasaan emang ngomong suka gak pake jeda.

“Owh, thanks ya udah bawa gw kesini,” ucapku sambil mulai memejamkan mata lagi.

“Eh Queen lo kenapa hiks Kalau ada masalah tu cerita sama gw! Jangan dipendem. Apa gunanya hiks gw jadi sahabat lo,” ucap Laura sambil terisak.

“Lah, Kenapa lo nangis Lau. Gw gak apa-apa cuma gw lagi ada masalah aja,” ucapku memandang Laura lirih.

“Cerita sini gw pasti dengerin,” sahut Lauta sambil mulai duduk disampingku.

“Gw putus sama Althur hiks. Kemarin gw telphone dia tapi yang angkat itu Cewek hiks dan lo tau malamnya Althur telphone gw kira dia mau jelasin masalah itu tapi apa? Dia hiks malah ngaku selingkuh dan nuduh gw hiks juga sama kayak dia. Dia nuduh gw selingkuh Lau!” ucapku sambil terisak mengingat kejadian kemarin malam.

“What, Althur nuduh lo selingkuh dan dan dia putusin lo? Astaga Queen sabar ya  jangan karna dia lo jadi kayak gini. Please belajar ikhlasin dia dan lupain kalau memang itu mau dia.” sahut Laura yang dapat gw liat dia juga emosi.

“Iya, Lau emang susah sih. Tapi pasti gw usahakan,” jawabku.

“Nah gitu dong, baru Queen yang gw kenal,” ucap Laura, Setelah itu Laura langsung memelukku.

 

*****

 

22 Agustus 2019

Huft… Seharusnya sekarang Aniversary kita Al, tapi kenapa kamu malah ninggalin aku? Coba kamu bisa jaga hati kamu kita gak akan kayak gini.

‘Huh ngapain juga mikirin dia, belum tentu dia juga mikirin kamu Queen’ batinku.

Drrttt… Drrttt…

“Siapa sih telphone gak tahu apa orang lagi sedih,” gumamku.

—-

“Hallo, Lau.” ucapku.

“Queen…Tolong gw hiks cepet keluar, ada cowok yang nodongin gw pisau didepan Apart lo hiks bantu gw please, Arghhh!” teriak Laura diseberang sana.

“Hah? Tunggu-tunggu gw keluar sekarang!” ucapku panik.

“Cepet hiks gw takut Queen,” sahut Laura lalu sambungan telephone terputus.

Tanpa menunggu lama aku langsung berlari keluar Apart. Tapi aneh gak ada apa-apa, Laura juga gak ada. “Asem emang Laura malah ngerjain gw, awas lo gw bales.” gumamku sambil berbalik untuk masuk kedalam Apart.

Saat aku berbalik sungguh aku gak bisa menahan air mataku, orang yang selama ini aku rindukan, orang yang selama ini aku tunggu berdiri tepat dihadapanku.

“Happy Aniversary sayang… Maaf waktu ini aku ngebohongin kamu, aku gak pernah selingkuh dan gak akan pernah. Aku sayang kamu dan maaf karna kecerobohan aku kamu jadi sakit,” ucap Althur sambil memelukku.

“Huaaa, kamu jahat Hiks kamu gak tau gimana perasaaanku saat yang angkat telephone itu cewek dan parahnya bilang kamu pacarnya dia hiks Jahat!” teriakku menangis sesegukan dalam pelukan dia.

“Hehe, maaf itu temenku sengaja aku suruh biar rencanaku berhasil,” ucap Althur sambil mengusap kepalaku.

“Pokoknya kamu jahat! Aku gak suka kayak gitu,” sahutku Lirih.

“Maaf sayang, aku akan nebus segala kesalahan aku. So will you marry me?” ucap Althur yang bikin aku spechlees.

Yes, i will.” ucapku lirih sambil memeluk dia lagi.

Your’e my Mine. I love you now, tommorow dan forever” bisik Althur sambil mengeratkan pelukan kami.

You too,” balasku.

 

****

 

Jarak adalah sebuah harapan, impian, serta hal yang dapat menjadi alasan terjadinya sebuah persatuan maupun perpisahan. Di saat sebuah rasa antara jarak dan waktu sekarang menjadi satu disanalah kita akan mengetahui arti jarak yang sebenarnya

– Queenella Winifred Madison.

 

Tamat.

 

 

Biodata Penulis :

Jayanti Mustika Dewi itulah nama asli dari seorang gadis kelahiran Bali. Yang masih bersekolah di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)  di kota Tabanan, Bali. Berbekal pengetahuan tentang kepenulisan yang minim, Astungkara bisa menjadi penulis yang sesungguhnya.

 

 

#karyasiswa

#literasi

#gls

Pulau Bali

Muda

Hujan

Sebuah Senyum Sebelum Air Mata

Hai sobat SMK, kali ini da karya baru dari temen kita Ni Pande Putu Sonia Marthasia dari kelas XI AKL 1. karyanya berupa cerpen yang berjudul “Sebuah Senyum Sebelum Air Mata“.

Penasaran????

silahkan dibaca !!!

 

Sebuah Senyum Sebelum Air Mata

 

Rambutnya tergerai indah akibat cahaya matahari yang terik di siang hari ini, dari jauhpun sudah bisa ditebak kalau setiap minggu ia rajin ke salon untuk merawat mahkotanya itu. Bukan hanya rambut, tapi kulitnya yang berwarna sawo matang khas orang Indonesia itu juga tampak bersih dan mulus. Dengan kakinya yang jenjang, kaos kakinya yang pendek serta roknya yang selutut nampak seolah memamerkan kakinnya yang indah. Dengan penampilannya yang bersih dan terawat berbanding terbalik dengan tempat dimana sekarang ia menapakkan kakinya.

Pasar tradisional. Disanalah ia sekarang, melakukan kegiatan study lapangan untuk siswi jurusan keperawatan mengharuskannya untuk menganalisis lokasi di sekitarnya, menganalisis seberapa bersih dan sehat daerah sekitarnya, dan yang lebih penting, seberapa baik kebiasaan para pedagang ataupun pembeli dalam menjaga kebersihan. Suara antar pembeli dan pedagang masih saling bersautan di siang hari yang panas ini.

Pedagang yang masih sibuk menawarkan sisa jualannya yang belum habis ia jual ketika pagi. Pembeli yang datang kesiangan sibuk menawar barang sisa pagi tadi.

Dan Tasya, siswi jurusan keperawatan yang gusar ditempatnya duduk mengamati sekelilingnya.

Keringat yang menetes ia seka dengan cepat, lalat yang kadang hinggap ia usir dengan segera, dan bau busuk dari sampah ia antisipasi dengan parfum yang senantiasa dia genggam.

“Sya, balik yuk! Sumpah deh gue udah gak tahan, disini gerah banget.” Ucap Gifty, teman kelompok Tasya.

“Emang lo pikir gue gak gerah disini?! Lo aja yang gerah? Lo aja yang gak tahan? Lo gak liat keringet gue udah netes terus kayak mulut lo yang gak bosen ngebacot dari tadi?” Sambar Tasya yang dari tadi menahan emosinya mendengar omelan Gifty. Mendengar jawaban yang telak itu, tidak sedikitpun membuat Gifty bungkam. Walau tidak mengomel lagi, tapi Gifty tetap saja mengumpat pada dirinya sendiri.

Setelah mengambil beberapa gambar di tempat ini untuk bukti kunjungan, akhirnya Gifty bisa bernafas lega melihat Tasya kembali membawa kamera yang berisi beberapa foto itu. Namun pelangi yang muncul di siang bolong itu tiba-tiba meleleh ketika seorang nenek tua membawa nampan berisi beberapa sayuran menghampiri mereka.

Nenek itu berjalan dengan bungkuk ditambah nafasnya yang tidak beraturan terdengar jelas ketika ia sudah mendekati dua bidadari ini.

“Neng sayurnya neng.” Tawar nenek itu lembut sambil tetap memamerkan senyumnya yang sudah tak lagi indah dimakan usia.

“Saya gak makan sayur gitu nek, maaf.” Tolak Gifty sambil menelan ludah melihat sayur yang layu itu.

“Nenek kasi murah neng, sudah siang, dari pagi nenek belum dapet pembeli.” Tawar nenek itu sekali lagi sambil sesekali menarik nafasnya yang sesak.

“Kok maksa sih? Dibilangin halus gak ngerti, dikasarin salah. Makanya dulu itu sekolah dulu biar ngerti omongan orang.”

“Udah udah diem lo!” Lerai Tasya meredam emosi Gifty yang sudah lebih panas dari cuaca hari ini. “Sini nek, saya bayar.” Ucap Tasya sambil tersenyum yang juga menular ke nenek di depannya. Dengan segera nenek itu membungkus sayuran dengan tas kresek hitam lecek yang ia genggam.

“Maaf neng, nenek gak ada kembalian.” Tuturnya ketika melihat selembar uang berwarna biru yang Tasya keluarkan dari kantong roknya yang ketat.

“Gak apa nek, ambil aja.” Jawab Tasya yang semakin tersenyum sembari memamerkan giginya yang putih tertata rapi.

“Yaa Tuhan.. terimakasih ya Neng.”

Nenek tua yang senyumnya yang tidak juga luntur itu memasuki apotek tergesa-gesa. Mengharapkan agar uang hasil berjualannya tadi bisa ia gunakan untuk mengasihani tubuhnya yang sudah sakit-sakitan.

“Iyaa nek, ada yang bisa saya bantu?” Sapa ramah si pegawai apotek yang di kunjungi nenek itu.

“Saya mau nyari obat sesak Neng, ada?”

“Ada nek, tunggu sebentar saya ambilkan. Silahkan duduk dulu nek.” Tawar pegawai itu sopan yang prihatin melihat wanita tua itu yang sudah seharusnya bermain di rumah bersama cucunya, menghabiskan masa tuanya bersama keluarga dan mendapatkan perawatan selayaknya. Bukan malah mengais rezeki lalu merawat dirinya sendiri.

“Ini nek obatnya.” Ucap pegawai itu beberapa menit kemudian setelah kembali dari lemari tempatnya mengambil obat yang sudah terbungkus kantong kresek.

Dengan sumringah nenek itupun langsung menyerahkan uang hasil berjualannya tadi. Setelah menerima uang itu, si pegawai apotek hanya terdiam.

Matanya hanya fokus menatap uang berwarna biru cerah yang nenek tadi serahkan. Mulutnya terbuka seolah ingin mengatakan sesuatu namun kembali ia urungkan.

Setelah menarik nafas akhirnya hanya terdengar suara lembut dari bibir pegawai itu.

“Nek..”

“Iya Neng? Kenapa?” Tanya nenek itu polos.

“Nenek tadi jualan?”

“Iya Neng.”

“Uangnya nenek pakai beli obat saja ya? Nenek udah makan?”

“Iya Neng, uangnya cuma cukup buat nenek beli obat. Paginya nenek udah biasa gak makan, selesai jualan nanti kalau ada sisa sayur baru nenek masak.” Mendengar hal itu perlahan air mata pegawai itu membasahi pipinya.

“Neng gak papa, nenek udah biasa kok. Udah dari dulu tinggal sendiri gak ada keluarga. Semuanya udah pada nikah. Hahahaha.” Tutur nenek itu terlihat bersyukur sambil tertawa walau sebenarnya rasa kesepian terus menghantuinya setiap malam.

“Maaf ya nek, maaf.” Ucap pegawai itu sambil mencoba menahan air matanya yang semakin menetes. “Nek, ini uang palsu…”

Hening.

Tangan nenek yang sudah keriput itu bergetar di ikuti dengan bahunya yang juga bergetar. Kepalanya menunduk menatap alas kakinya yang berisi beberapa jahitan. Perlahan lantai apotek terlihat beberapa tetes air mata dari nenek tua itu.

“Nenek salah apa yaa.. Neng sampe diperlakukan begini. Kenapa ya Neng nenek belum bisa merasakan bahagia yang tulus. Selalu saja nenek diperlakukan seperti orang bodoh. Apa menjadi pedagang itu salah ya Neng? Apa menjadi pedagang itu kriminal ya Neng?” Ucapnya lalu kembali terisak. Tangannya yang sudah keriput ia gunakan untuk menyeka air matanya yang tidak henti-hentinya menangis meratapi nasibnya yang seolah tidak ada belas kasihan. Jangankan untuk merawat dirinya, untuk mengisi perutnya yang kelaparan saja belum sanggup ia lakukan.

Memberi bukannya untuk merasa telah mampu, tapi hanya sekedar membagi senyuman.

Banyak orang yang tidak sadar ketika kita memberi, hanya senyuman si penerima-lah kepuasan yang sesungguhnya, bukan balasan yang diharapkan sebelumnya.

 

#karyasiswa

#literasi

#cerpen

Tour Dua Dunia

Halooo… sahabat SMK, berikut ada sebuah cerpen karya dari temen kita Ni Pande Putu Sonia Marthasia dari kelas XI AKL 1.
Selamat Membaca!

 

Tour Dua Dunia

 

Kelasku berencana mengadakan tour, tempat yang kami pilih adalah sebuah taman. Rencananya disana kami akan mengadakan lomba-lomba, karaoke, dan makan bersama.

Aku, Bella, Sena, dan Febby datang lebih awal untuk mencari tempat yang cocok untuk mengadakan piknik kecil-kecilan kelas kami. Taman ini dibagi-bagi menjadi beberapa plok. Di plok yang berada paling barat tempat pintu masuk sudah full dengan tamu lain yang mengadakan rekreasi, terpaksa yang tersisa hanya plok paling timur. Awal memasuki tempat ini perasaanku mulai aneh, padahal di perjalanan tadi langit tampak cerah, tapi ketika tiba di tempat ini langit mulai mendung.

Kejanggalan lainnya adalah yang melakukan piknik di daerah sini hanya anak-anak yang tidak didampingi oleh orang tua. Mereka memakai baju kaos berwarna polos. Anehnya lagi semua anak memakai jenis kaos yang sama, hanya dibedakan dari warna! Dari plok barat sampai ke timur. Sebenarnya di plok paling timur pun masih terdapat 2 orang anak kecil yang sibuk bermain bola.

Anak itu seperti tidak menghiraukan keberadaan kami, mereka juga sama-tidak didampingi orang tua. Aku menjadi semakin ragu dengan tempat ini. Pohoh tinggi mengintari setiap sudut taman seolah mencoba menyembunyikan keberadaan kami dengan langit, seolah agar kami semua tersembunyi di bawahnya.

“Dik main bolanya jangan sampai sore ya.. kakak disini mau piknik sama temen kakak.” Kataku menghampiri anak kecil yang memakai baju berwarna merah.

Sebelumnya ia tidak menoleh ke arahku namun setelah ku katakan sekali lagi sambil menepuk pundaknya, perlahan ia menoleh dengan tatapan yang tidak bisa ku artikan. Wajahnya menatapku dengan ekspresi datar, kemudian berbicara pelan. “Iya kak.” Lalu tersenyum tipis.

Aku baru menyadari kalau wajahnya agak pucat, bibirnya kering dan bahunya yang kutepuk tadi mengalirkan sensasi yang berbeda. Bulu kudukku sempat merinding namun ku abaikan. Mungkin udara disini dingin. Pikirku.

Setelah mengatakan itu aku dan teman-temanku duduk di pinggir taman.

“Laper nok! Beli bakso yuk!” Ajak Febby. Kemudian kami semua sepakat membeli bakso.

Selama makan aku yang paling dulu selesai. Perhatianku selama makan terus tertuju pada batu yang dikelilingi pohon yang rindang. Batu tersebut tidak berwarna hitam ataupun coklat seperti batu pada umumnya. Batu tersebut berwarna cream dengan gurat-guratan merah. Di beberapa titik batu tersebut terdapat sebuah ukiran.

Aku yang semakin penasaran memutuskan untuk melangkah lebih jauh. Ternyata dipinggir batu tersebut terdapat beberapa ukiran wajah! Ada yang menghadap ke atas, ke samping, dan ke depan. Bahkan ada yang agak rusak.

Kurogoh HP dari dalam saku jaket yang aku pakai. Ku arahkan kamera ke batu aneh yang dikelilingi pohon yang tinggi menjulang itu. Ketika menganggat kamera HP, tubuhku semakin terasa bergetar, tanganku dingin, dan bulu kudukku merinding tetapi entah naluri apa yang membuatku tetap bersikukuh untuk mengabadikan pemandangan aneh ini. Objek yang akan ku foto tidak bisa diam. Ku arahkan terus kameraku namun objek tersebut berputar, tidak bisa ku foto!

Ku tururnku kamera dan ku arahkan ulang. Namun hasilnya tetap sama. Objek tersebut tetap berputar.

“HEY!” Kata Sena menepuk pundakku. Membuatku agak terkejut. “Ngapain? Jangan difoto-foto! Gak boleh disini angker tau!” Celetuknya terlihat marah.

Apa yang Sena ketahui tentang tempat ini? Kenapa? Ada yang salah? Kenapa aku tidak bisa mengambil foto apapun?Puluhan pertanyaan bersarang di dalam kepalaku. Namun akhirnya aku memilih mengalah.

Teman-temanku sudah semua selesai makan namun yang lain belum juga datang. Dua anak kecil itu pun masih bermain disana walau jam di tanganku sudah menunjukan pukul 14.45. Kuputuskan memperingati anak itu sekali lagi. Anak yang berbaju merah itu kini berdiri di balik pohon yang berada di pinggir taman. Ia menatap bola yang ada di tangannya dengan tatapan kosong. Mungkin dia sudah lelah. Pikirku.

“Dik, mainnya udah selesai? Kakak mau pakek tamannya.” Nihil! Ia hanya menunduk menatap bola itu.

Samar-samar dari sudut mataku kini ada total tiga anak. Ada dua anak memakai baju merah dan memiliki wajah yang sama! Pertama yaitu anak yang kini ada di depanku  dan yang kedua masih sibuk bermain bola dengan temannya. Anak di depanku ini menunduk, melihat ke arah kakinya sambil tetap memegang bola.

“Dik!” Panggilku sekali lagi. Tatapannya berlahan berbalik ke arahku.

Wajahnya semakin pucat, matanya merah, dan tatapannya mencekam. Kurasakan udara menghembus semakin dingin. Pohon yang tadi tampak tenang kini mengeluarkan bunyi bersorak-sorak. Suara-suara cekikikan anak kecil terdengar dimana-mana. Terdengar bahagia namun tetap memeberikan kesan yang mengerikan.

Ku perhatikan kembali sosok anak kecil di depanku namun tubuhku tak bisa bergerak. Betapa terkejutnya aku ketika menyadari mata hitamnya perlahan berubah total menjadi putih. Bibirnya yang pucat perlahan mengalirkan darah segar, bahkan baunya menusuk hidung. Tawa anak kecil yang semakin nyaring perlahan berubah menjadi tangisan menjerit-jerit.

Seketika semua temanku yang daritadi tidak ku perhatikan menjerit sekencang-kencangnya, mereka berlari dengan menggunakan semua tenaga yang mereka miliki. Mendengar jeritan itu, tubuhku mulai bisa terkendali, kakiku mulai bisa ku gerakan namun terlambat! Tangan anak itu menggenggam tanganku erat. Bibirnya terbuka namun kembali tertutup seolah ingin mengatakan sesuatu yang tidak bisa kudengar dengan jelas. Ku ambil langkah secepat mungkin meninggalkan anak itu. Kini lariku sejajar dengan Bella yang berlari sambil menangis. Hanya Bella yang ada disampingku, entah dimana yang lainnya.

Sekarang aku berada pada gedung yang nampak seperti ruangan kelas. Terdapat rak kaca yang tertempel di tembok yang catnya mulai terkelupas. Aku dan Bella kini berada disana hanya berdua, ketakutan dan kehausan akibat berlari.

“BELL KENAPA TADI HAH??!” Ucapku dengan nada yang menyudutkan, menuntut jawaban dari Bella.

“Aku gatau.” Ucapnya dan kembali menangis. Tubuhnya bergetar hebat dengan keringat yang menetes dari keningnya. “Tadi Sena tiba-tiba jerit. Dia nunjuk dari tempat lo berdiri tadi. Disana ada nenek-nenek bungkuk, bawa tongkat, rambutnya putih terus nunjuk-nunjuk ke arah kita sambil ketawa kenceng banget.” Tutur Bella sambil mengacak rambutnya yang kini ia terlihat prustasi. Nenek apa? Dari arahku? Kenapa sedikitpun aku tidak melihatnya?

“Bell sebenernya..”

“AAAAAAAA….” Jerit Bella sambil menunjuk ke arah kotak kaca yang menempel pada dinding.

Ucapanku tercekat. Beberapa kepala tanpa badan nampak bermunculan dari kotak tersebut. Bau amis menyengat. Semakin lama kepala-kepala itu semakin bertambah banyak sampai berjatuhan di lantai. Darah mengalir di seluruh lantai dan mulai mendekat ke arah kami. Aku dan Bella mencoba berbalik namun entah darimana datangnya tembok menghadang jalan keluar kami.

Bella dan aku semakin menjerit. Darah semakin mendekat ke kaki kami dan kepala-kepala itu menatap kami sambil tersenyum. Bau amis darah menyebabkan aku pusing. Baunya kini tercampur dengan bau busuk ikan, bau dupa dan bau melati. Nyanyian-nyanyian nyaring juga terdengar dari berbagai arah diikuti dengan tawa serta tangisan anak kecil yang bercampur aduk. Kepalaku semakin terasa berputar kemudian perlahan semua berubah gelap. Sinar yang menyilaukan datang ketika mataku yang terpejam. Perlahan mataku terbuka akibat cahaya tersebut. Aku menghela nafas sekaligus agak terkejut.

Ternyata aku bermimpi dan cahaya tersebut adalah lampu kamarku. Di depanku kini berdiri sesosok wanita paruh baya.

“WOEE BANGUN!! KESIANGAN INI, KATANYA ADA PIKET UMUM!!” Suara ibuku melengking sambil menarik paksa selimut yang menutup setengah tubuhku.

.

.

.

 

PS : Cerita ini diambil dari kisah nyata yang sedikit dilebih-lebihkan:)

 

#cerpen #literasi #smk

Alasan untuk Hidup

Berikut sebuah karya yang ditulis dalam dua bahasa (Indonesia-Jepang) karya Andrew Fritz Efron Ambesa yang duduk di kelas XII TKJ. Karyanya berjudul Alasan untuk Hidup.

Selamat membaca, sekalian belajar bahasa dan tulisan jepang   🙂

 

Alasan untuk Hidup

 

Beberapa waktu belakangan ini, banyak orang bertanya-tanya dalam pikirannya. Untuk apa kita terlahir di dunia ini? Apa arti keberadaan kita? Apakah semata-mata hanya untuk  takjub pada ciptaan Sang Maha Kuasa? Atau sekedar menjadi pelengkap di dunia ini? Itu tadi baru beberapa contoh saja dari banyak pertanyaan dalam benak setiap manusia. Bukan tanpa alasan manusia dapat mempertanyakan sesuatu hal sejauh itu, sebab manusia ialah satu-satunya ciptaan yang paling spesial di mata Tuhan. Karena mereka telah dibekali oleh akal budi & pikiran, sehingga membuatnya berbeda dari ciptaan yang lain.

Keberadaan kita di dunia ini juga tidak serta-merta tanpa alasan, jelasnya Tuhan telah menciptakan kita, manusia, agar kita dapat menikmati sekaligus mengagumi karya-Nya yang luar biasa dan tak terbatas. Dan juga, kita diciptakan saling berbeda satu sama lain, baik itu dalam hal warna kulit, suku bangsa, dan bahasa. Agar kita dapat belajar untuk saling menghargai satu sama lain dalam perbedaan.

Akan tetapi, seringkali kita saksikan, umumnya manusia lebih mudah untuk mencari kelemahan dan kekurangan daripada bakat ataupun kelebihan dalam diri masing-masing, antara lain ada dari sisi penampilan, tingkat kecerdasan, bahkan hingga status sosial yang mereka miliki. Padahal, kita seharusnya yakin dan percaya, bahwa Tuhan tidak pernah menciptakan segala sesuatunya dengan  tujuan yang tidak jelas. Dan di balik itu semua, tangan Tuhan sedang merancang sesuatu yang tak akan pernah terpikirkan oleh manusia, yang akan membuat hati kita tersentuh. Dan oleh sebab itu, jangan pernah mengeluh maupun bersunggut-sunggut  akan kekurangan yang kita miliki, melainkan kita harus melihat lebih dalam anugerah dan kelebihan yang telah Tuhan limpahkan pada kita. Sebab, di luar sana, bahkan mungkin masih ada orang lain, yang jauh lebih menderita dan berkekurangan daripada kita. Karena ada suatu kata-kata yang pernah saya baca sebelumnya, tertulis bahwa ‘jangan selalu melihat ke atas, sesekali lihatlah ke bawah’. Intinya, apapun yang terjadi, kencinya ialah selalu bersyukur. Bersama semangat!.

 

「生きているのために理由です。」

 

「最近、人々は考えのなかで、思って、なぜこの世界中で生まれましたか。ぞんざいの意味は何ですか。神様の生物しか憧れませんか。それとも捕捉だけなりますか。たった今、それは半分の考えとか重いとかだ。理由がなくてがない、そこまで考えていた。人間(人々)は神の目で特別な生物だから、思いとか考えとかもちろんあるはずです。」

「私たちのぞんざいの意味もあるはずです。神様の最高で素晴らしい創造を憧れるように、神様は作らせてくれます。違い中で互いに敬意出来るように、お肌の色や民族や言語などことが別々に作られて」

「だけれども、よく見て、普通の人々は自分の強さより弱点が探しやすい。なのに、私達は信じらなければなりません。神様のなら、けして明白な目的なし作るわけがありません。うろに、神様は人間に思わないことが何かを計画しています。ですから、弱点のことにけして不平してはいけないんだ。むしろ、私達にくれた恵みとか強さが感謝しなければなりません。だって、他の人はまだ私達よりもっと苦しくなりました。ずっと上側に見なくてはいけなくて時々下側に見ると言う言葉が思い出したから。結論はいつも感謝します。一緒に頑張ります。」

 

#literasi #karyasiswa #pidato

Karakter Muda

Halo sahabat SMK, kali ini ada sebuah puisi karya dari Ni Made Dona Galih Sari yang duduk di kelas XII AKL 4. Puisinya berjudul “Karakter Muda“.

Selamat Membaca.

 

 

Karakter  Muda

 

Tertangkap muram seorang di sana

Senyum meremang nampak derita

Sebuah jiwa mendadak terluka

Tergores kata yang tak tertata

Apa salah dia?

Metamorfosa karakter para muda

Tertawa diatas derita yang tak berdosa

Sebuah karakter alakadarnya

Berpacu pada hal bernama kuasa

Inikah generasi muda?

Generasi yang rela melakukan hal tak terduga

Demi mendapatkan ketenaran semata

Akhirnya pun berujung petaka

Generasi yang berfikir tanpa logika

Hanya untuk kesenangan saja

Mari ciptakan karakter beretika

Hidup tanpa memberi luka

Menjadi jiwa yang merdeka

Merajut mimpi semasih muda

Membina kebersamaan selagi bisa

#Literasi #Karya Siswa #Puisi